Antara Peran, Lelah, dan Rindu Masa Kecil


Sejak tahun 2023, hidupku berubah total. Tidak lagi hanya mengurus diri sendiri dan pasangan, kini aku resmi menyandang gelar baru: ibu. Satu kata yang ternyata membawa begitu banyak tanggung jawab, cinta, dan… kelelahan. Rasanya belum benar-benar siap, tapi kenyataannya, waktu tidak menunggu kesiapan siapa pun.


Menjadi ibu berarti menyesuaikan ritme hidup. Bangun lebih pagi dari biasanya, memikirkan menu makan si kecil, dikejar waktu agar tetap bisa berangkat ke kantor. Mengganti popok sambil memikirkan deadline, menjawab grup WhatsApp kantor dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengelus punggung anak yang rewel karena tumbuh gigi.


Di sela semua itu, masih ada peran lain: sebagai istri. Menyempatkan waktu untuk tetap menjadi pasangan yang hadir, bukan sekadar rekan serumah. Dan tentu saja, peran yang kadang paling mudah terlupakan: diriku sendiri, sebagai seorang perempuan. Seorang wanita yang juga butuh waktu untuk bernapas, memanjakan diri, atau sekadar duduk diam tanpa harus memikirkan apa pun.


Hari-hari terasa panjang, tapi juga berlalu begitu cepat. Setiap anggota keluarga seakan punya benang tak kasat mata yang terhubung langsung padaku. Semua bertumpu, semua berharap, dan aku... mencoba tetap kuat. Tapi jujur saja, ada hari-hari di mana aku ingin menangis tanpa alasan, atau sekadar rindu masa kecil — ketika satu-satunya tanggung jawabku hanyalah PR sekolah.


Kadang aku kangen jadi anak-anak. Dimanja, ditanya “mau makan apa hari ini?”, atau bisa tidur siang tanpa rasa bersalah. Sekarang, aku justru menjadi orang yang bertanya, yang menyediakan, yang memastikan semuanya berjalan. Momen-momen ini mengajarkan banyak hal. Tentang ketulusan, pengorbanan, dan terutama tentang cinta yang tak bersyarat.


Aku tahu aku tidak sendiri. Banyak ibu di luar sana menjalani hal yang sama. Kita lelah, tapi tetap berjalan. Kita menangis, tapi tetap tersenyum di depan anak. Kita rindu kebebasan, tapi tak ingin melewatkan satu detik pun dari tumbuh kembang buah hati.


Menjadi ibu, istri, dan wanita karir bukan tugas yang mudah. Tapi dari setiap peluh dan air mata, selalu ada kebahagiaan kecil yang menguatkan. Pelukan anak, senyum pasangan, atau secangkir kopi hangat yang bisa dinikmati tanpa gangguan — hal-hal sederhana yang mengingatkan: kita luar biasa.


Untuk para ibu baru, terutama yang mulai sejak 2023 seperti aku — kita hebat. Meskipun sering merasa tidak cukup, percayalah: kita sudah melakukan lebih dari cukup.


Mari terus saling menguatkan, dan sempatkanlah menulis seperti ini. Karena kadang, menulis adalah bentuk perawatan diri yang paling tulus. Agar suatu hari nanti, kita bisa membaca kembali tulisan ini dan tersenyum sambil menghela napas, “aku berhasil melewatinya.”

What's your opinion?

featured